Sabtu, 08 Desember 2012


Subjektifitas Merajalela !
Musik, Hermeneutika dan Sejarah
LAWRENCE KRAMER
Reviu By Firmansah

Terjadi pertentangan umum tentang pemberian makna pada musik. Dalam dua epigraf menjelaskan bahwa pertama, yang paling sulit dari semua seni untuk dibicarakan adalah musik karena musik tidak memiliki makna untuk dibicarakan ( Ned-Rorem, Musik From Inside Out ), sedangkan yang kedua mengatakan bahwa “ tapi aku harus menggunakan kata – kata ketika saya berbicara dengan anda ( T. S. Eliot, Sweeney Agonistes ). Ketika musik dijelaskan dengan kata- kata maka akan melebihi arti, mengurangi estetika musik itu sendiri dan musik memang tidak mempunyai makna untuk dibicarakan. Kata dan konteks dari musik adalah faktor ekstrinsik yang tidak dapat ditekankan terlalu banyak. Sering dianggap kurang atau tidak representatif dan kurang dihargai oleh para musikolog. Para musikolog berpendapat bahwa musik tidak menjelaskan artinya sehingga tanggapan yang baik untuk ini adalah bersikap intuisi dan bukan bahasa fisik ( subjektifitas ).
Kata menempatkan musik dalam berbagai konteks budaya baik secara arti “ musik” sendiri atau musik yang dijelaskan dengan permainan kata – kata.  Sehingga pemberian makna pada musik tidak terlalu diharapkan karena ucapan subjektif disusutkan untuk kepentingan pribadi, bersifat puitis dan hilangnya makna musikal sebelum adanya klaim yang mewakili pengetahuan musik itu sendiri, dengan kata lain tidak mengisi kekosongan semantik musik. ini sejalan dengan apa yang diungkapkan oleh Nietzche (1909, 1969, 428 ) bahwa “ dibandingkan dengan musik semua komunikasi dengan kata – kata itu terbatas, mengurangi makna dan memperkasar, kata - kata membuat hal umum menjadi tidak umum.  
Hal di atas juga merupakan rintangan yang tinggi karena rentang tuduhan bahwa semua ini untuk mengatasi kemiskinan semantik musik dengan akal konseptual dan verbal yang kaya. Karena menurut pihak yang lain, musik adalah karya budaya sehingga penting untuk dibicarakan, contohnya musik ada dalam perilaku sehari – hari manusia dan kegiatan seremonial budaya yang diisi dengan musik. Telah ada konsensus tertentu untuk menjelaskan makna dari musik tapi sama saja itu adalah subjektif belaka yang secara nyata telah ditolak.
Pada tahun 1990, telah ada upaya untuk memberikan arti yang kompleks terhadap musik tanpa ada batasan terhadap ekspresi perasaan dan kemiskinan representasional semantik musik. Kajian ini disebut Musikologi Baru atau Lawrence Kramer  sering menyebutnya Musikologi Budaya. Kajian ini mendestabilkan perbedaan tegas antara bentuk yang dibudidayakan dan yang vernakular ( pribumi ) dan mengambil semua jenis musik sebagai wewenangnya. Musikologi Budaya memberikan perhatian kepada musik untuk membentuk cara subjektifitas historis tertentu dengan alasan ideologi. Namun harus diketahui, Musikologi budaya bisa mengklaim bahwa musik memiliki makna meskipun kurang referensi yang ditemukan dan maknanya dapat dibuat eksplisit dengan proses penerjemahan mengandaikan semacam hubungan vital antara musik dan teks ( problematis ).
Pada bab ini dijelaskan dua hal dalam Musikologi Budaya yaitu, Hermeneutika dan Sejarah. Beberapa penjelasan singkat diawal adalah gambaran dari Hermeneutika Musik. Yang menjelaskan tentang subjektifitas dalam proses penafsiran makna musik. Dalam hal ini terjadi kesenjangan yang mendiskreditkan gagasan musik dan dikonstruksi secara sewenang – wenang oleh interpreter. Namun ini adalah langkah yang adil dari pertentangan di atas tadi karena dengan kondisi seperti ini memungkinkan makna musik dan tempat interaksi musik atau badaya sepenuhnya bisa terwujud. Ini bisa sangat mempengaruhi bagi orang yang menginginkan suatu penjelasan makna musik dan menjadikan tanggapan subjektifitas ini bukan sebagai halangan tapi sebagai sarana untuk memahami makna musik. Hal ini sebagai gambaran untuk tidak terlalu mamahami makna musik melalui interpretasi penafsir tersebut ( Hermeneutika Musik ).
Dalam pembahasan mengenai konteks atau sejarah dalam musik sering dipakai deskripsi kontruktif yang dipercaya adalah suatu bentuk kebenaran. Tapi, begitu tegas menghasilkan pergeseran kualitatif dalam musik itu sendiri ( lompatan quantum ). Tidak ada rujukan literal yang memberikan makna pada objek dalam bentuk baru. Dimensi konstruktif ini adalah suatu fungsi dan bukan sifat dalam musik itu sendiri karena tidak menafsirkan musik atau mereproduksi makna yang sudah ada di dalamnya tapi melekatkan diri pada musik sebagai bentuk independen atau lapisan penampilannya. Selalu ada perubahan konstruktif untuk menghasillkan makna – makna baru dari interpretasi dan kontektualisasi. Sehingga deskripsi konstruktif ini tidak akan bertahan lama.
Menurut Gadamer,  perubahan makna yang terjadi karena adanya prasangka dan tidak mungkin ada pemahaman tanpa prasangka tersebut. Prasangka memberikan pandangan klasik tentang inti kebenaran yang berkelanjutan, dari anggapan sebelumnya atau disposisi yang ada menghasilkan sesuatu yang baru. Dalam deskripsi konstruktif, struktur prasangka mengasumsikan sebuah yang nyata dapat diraba dan dramatis. Dalam musik struktur prasangka bukanlah bentuk abstrak atau tanpa syarat, ia merupakan formasi bergantung pada budaya-sejarah dan tentu dalam ruang terbuka yang sama antara kurangnya semantik dan deskripsi konstruktif. Namun, Gadamer cendrung untuk mengimunisasi prasangka dari resiko dengan melandaskannya dalam tradisi yang tidak terbuka terhadap kritik ( 1975 ). Sedangkan menurut Jurgen Hebermas (1977), prasangka harus ditempatkan pada suatu resiko atau kritik. Sehingga di sini bisa dikatakan struktur prasangka terjadi berdasar situasi sosiokultur tertentu yang tidak bisa untuk digeneralisasikan.
Kehadiran sejarah tidak dapat di kesampingkan dari konstitusi apapun yang kita pahami sebagai musik itu sendiri. Namun perlu diketahui, dalam penulisan sejarah, hermeneutika Gadamer tidak bisa dipahami sebagai teori hakekat makna. Karena, di dalamnya makna yang ditemukan dikonstruksi untuk kepentingan sosiokultur tertentu. sehingga menghilangkan signifikansi dari musik itu sendiri.
Dari keseluruhan penjelasan, dapat disimpulkan bahwa dalam Musikologi Budaya, hermeneutika mengarah langsung pada budaya dan sejarah. di mana hal ini dijadikan lahan untuk memenuhi kepentingan pribadi dan sosiokultur tertentu. pemberian makna musik dilakukan secara subjektif sehingga bersifat politik dan dengan makna musik yang dihasilkan diharapkan bisa  mambangun karakter sosiokultur tertentu. Kembali ke tanggapan awal, bahwa musik hanya memiliki makna yang merupakan objek pemahaman musik itu sendiri tapi tidak memiliki nilai semantik dan buat apa memaknai suatu musik jika pemaknaan tersebut bersifat subjektif belaka.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar